Home

Bali Mendominasi di Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018

Bali Mendominasi di Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Awards 2018

Sektor pariwisata menjadi bagian terpeting dalam roda penggerak perekonomian Indonesia. Sejak tahun 2016, sektor pariwisata mampu menyumbang porsi terbesar kedua devisa negara setelah minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil). Maka tak ayal jika pemerintah terus fokus mengembangkan dan membangun pariwisata guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Apalagi, pariwisata dianggap sebagai industri yang paling mudah dan murah untuk dikembangkan dalam upaya meningkatkan devisa negara. Hal ini mendorong setiap pemerintah daerah terus menggenjot sektor pariwisata yang ada di daerahnya.

Pembahasan terkait pariwisata Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan pariwisata di Bali. Bali dengan julukannya sebagai pulau dewata atau the Island of Gods ini telah berhasil menjelma sebagai brand pariwisata yang mendunia bahkan nama Bali lebih terkenal dibanding Indonesia. Kondisi lingkungan alam yang masih terjaga dan terawat, berbagai pilihan destinasi wisata alam, budaya, dan buatan yang beragam, masyarakat yang ramah, dukungan infrastruktur yang memadai, dan harga yang bersaing menjadikan Bali sebagai tempat wisata favorit para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Tidak mengherankan apabila Bali kerap menyabet berbagai penghargaan nasional dan internasional di bidang pariwisata. Sebut saja Travellers Choice Awards 2017 dan Travellers Choice Awards 2018 sebagai The World’s Best Destination, ASEAN Sustainable Tourism Awards 2018 untuk wilayah Nusa Dua, Yokatta Wonderful Tourism Awards 2018, dan tentunya banyak penghargaan-penghargaan lainnya yang telah diraih oleh pulau seribu pura itu.

Kombinasi Energi Surya PV (photovoltaic) – Angin dan Teknologi Fleksibilitas Dalam Sistem Kelistrikan Masa Depan

Kombinasi Energi Surya PV (photovoltaic) – Angin dan Teknologi Fleksibilitas

Dalam Sistem Kelistrikan Masa Depan

Saat ini, listrik dari PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) di atas tanah dan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) menjadi yang termurah di berbagai negara. Maka diprediksikan bahwa pemanfaatan energi terbarukan dari PLTB di atas tanah dan PLTS akan terus meningkat mencapai 50% dari total sistem kelistrikan dunia di tahun 2050, dengan perbandingan yang seimbang 50:50. Sedangkan porsi batu bara dalam sistem kelistrikan akan menyusut menjadi 11% di tahun 2050 (New Energy Outlook 2018).

Faktanya, biaya pembangkitan listrik berbasis PLTB di atas tanah telah turun sekitar 23% sejak tahun 2010, dan begitu pula biaya listrik dari Solar PV (photovoltaic)  telah turun 73%. Pada tahun 2017, biaya listrik berbasis PLTB di atas tanah berkisar 0,06 USD per kilowatt hours (kWh) dan Solar PV turun menjadi 0,01 USD/kWh. Beberapa penyebab utama terkait penurunan harga tersebut, diantaranya kemajuan teknologi, dengan inovasi yang terus dilakukan mampu meningkatkan performa teknologi tenaga surya dan angin sehingga mampu memangkas biaya instalasi dan biaya operasi dan pemeliharaan (operation and maintenance cost). Selain itu, semakin banyak pengembang-pengembang yang telah berpengalaman aktif mencari kesempatan-kesempatan proyek di seluruh dunia, dan proses pengadaan yang kompetitif di tengah era globalisasi pasar energi terbarukan (IRENA’s Renewable Power Generation Cost in 2017).

Smart City di Indonesia

 Smart City di Indonesia

Perkembangan teknologi telah berhasil menyusup ke seluruh sendi kehidupan. Sebabnya, teknologi mampu menawarkan berbagai kemudahan dan manfaat bagi penggunanya. Apalagi seiring berjalannya waktu, teknologi terus berkembang pesat menjadi semakin canggih, maka tak ayal jika perkembangan pembangunan perkotaan pun menitikberatkan pada pemanfaatan teknologi informasi (IT) sebagai penunjangnya. Diharapkan dengan adanya penerapan IT, perencanaan sampai pengelolaan semua aspek perkotaan menjadi semakin mudah, efisien dan efektif. kondisi tersebut yang kemudian disebut dengan kota cerdas atau smart city.

Pembangungan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Indonesia

 Pembangungan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Indonesia

Pemerintah Indonesia sedang intens mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT). Upaya ini diambil sebagai langkah untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan yang ramah lingkungan atau low emission. Energi terbarukan mampu memberikan kontribusi emisi gas relatif lebih rendah yakni 19%. Selain itu, ketersediaan potensi dan cadangan EBT begitu melimpah di Indonesia.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, salah satu EBT yang dikembangkan adalah panas bumi atau geothermal. Ketersedian sumber panas bumi di Indonesia sangat besar, yakni mencapai 40% dari total sumber panas bumi di seluruh dunia atau sekitar 29.000 MW. Namun kenyataannya pengembangan EBT di Indonesia masih rendah, tidak sebanding dengan potensinya. Saat ini, pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Indonesia kurang dari 10% dari potensi yang ada.

Prospek Pembangunan PLTN Pertama di Indonesia

 Prospek Pembangunan PLTN Pertama di Indonesia

 

Isu pemanasan global, krisis energi dan krisis ekonomi adalah beberapa permasalahan yang sedang dihadapi dunia di abad 21 ini. Salah satu upaya menghadapi hal tersebut, beberapa negara telah mulai beralih menerapkan teknologi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam sistem kelistrikkan karena dianggap lebih efisien, efektif, dan ramah lingkungan. Teknologi nuklir menjadi salah satu pilihan sumber energi listrik yang dikembangkan untuk mengurangi penggunaan energi fosil dan emisi gas CO2 sebagai penyebab pemanasan global. Meski pembanguan PLTN di berbagai negara masih menimbulkan pro kontra, semakin berjalannya waktu pembangunan PLTN terus menunjukan tren yang positif.

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Pertama Indonesia

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Pertama Indonesia

Pada tanggal 2 Juli 2018, presiden RI meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) komersial pertama di Indonesia. PLTB dengan kapasitas 75 MW ini terletak di Desa Mattirotasi dan Lainungan, Kecamatan Watangpulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Provinsi Sulawesi Selatan. Dilengkapi dengan 30 kincir angin yang tersebar di atas lahan seluas 100 hektare, menjadikannya sebagai PLTB terbesar di Indonesia bahkan se-Asia Tenggara. Terwujudnya PLTB Sidrap merupakan komitmen pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dalam sistem ketenagalistrikkan Indonesia.

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia