Balikpapan Terjebak Krisis Air Bersih

Tahun 2014, Balikpapan, Kalimantan Timur, meraih prestasi membanggakan sebagai kota paling nyaman dan layak huni di Indonesia. Empat kali meraih Adipura Kencana hingga penghargaan lingkungan tingkat ASEAN. Meski hebat dalam urusan lingkungan, Balikpapan belum menang melawan krisis air.

Krisis air bersih yang parah tahun 2004 terulang pada tahun 2014, dan kembali terjadi tahun ini. Benang merahnya sama: hujan deras yang tidak kunjung turun sehingga menyusutkan air Waduk Manggar. Waduk ini memasok 90 persen air baku PDAM Balikpapan.

Balikpapan boleh beralasan "apes" karena setelah perbaikan pipa di waduk pada September 2014 ternyata hujan tidak kunjung turun. Penggiliran distribusi air bersih dan pengurangan produksi air hingga 50 persen dilakukan selama dua bulan.

Tak lebih dari dua tahun, tepatnya 15 Februari lalu, penggiliran serupa kembali dilakukan. Ini berarti 90.000 rumah bergantian mendapat air bersih. Tiga hari air mati dan empat hari mengalir, atau kebalikannya. Meski sudah digilir, belum tentu air mengucur, terlebih bagi warga yang berada di perbukitan.

Hujan memang mulai mengguyur, tetapi hanya cukup mengisi Waduk Manggar, yang pada Senin (28/3), ketinggian airnya mencapai 4,75 meter. "Stok air hanya cukup untuk 10 hari. Kami perlu hujan deras lagi untuk mengisi waduk," ujar Haidir Effendi, Direktur PDAM Balikpapan.

Ratusan warga RT 007 Kelurahan Sumber Rejo, Balikpapan, dan sekitarnya menggantungkan harapan pada dua sumber air di kampung. Sumber air pertama di halaman masjid yang berasa tawar. Sumber air kedua di seberang masjid yang lokasinya terbuka (kolam) yang airnya agak masam.

Meski demikian, Uni, salah satu warga, harus menghabiskan tiga jam hanya untuk mendapat tiga ember air. Adapun di seberangnya, Darmawati, warga lain, masuk harus mengambil segayung demi segayung air kolam yang berasa asam untuk memenuhi kebutuhan.

Rita, warga Gunung Samarinda Baru, mengatakan, air hanya mengalir seminggu sekali sejak penggiliran. Mengalirnya pun hanya dari tengah malam hingga subuh. Kucuran air dari keran juga tidak deras. "Sudah lima hari air tidak mengalir," ujar Rita, Senin (28/3).

PDAM Balikpapan membuka dua posko air untuk melayani kebutuhan warga. Namun, karena panjangnya daftar tunggu, Septian, warga Gunung Kawi, harus memesan jauh hari sebelumnya.

PDAM Balikpapan mendapatkan air baku dari Waduk Manggar yang berada di kawasan Hutan Lindung Sungai Manggar. Namun sayangnya, hingga kini kapasitas waduk tak ditambah meski konsumsi air oleh warga terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Sebagai gambaran tahun 2004, Balikpapan dihuni 495.000 jiwa, sekarang lebih dari 710.000 jiwa.

Waduk Teritip

Baru pada April 2014, peletakan batu pertama Bendungan Teritip dilakukan. Bendungan ini mampu menampung 2,4 juta meter kubik air serta menghasilkan 250 liter per detik. Presiden Joko Widodo saat meninjau bendungan ini, pekan lalu, menegaskan, Bendungan Teritip harus dipercepat sehingga bisa difungsikan sebelum musim penghujan tahun 2017.

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi menyebut, pembangunan bendungan kini mencapai 65 persen. Bendungan awalnya diestimasi menelan biaya Rp 270 miliar, bersumber APBN, dengan rencana kontrak tahun jamak. Namun akan ditambah lagi dari APBN Rp 80 miliar untuk membantu pembebasan lahan.

"Bahkan akan dikucurkan lagi APBN hingga Rp 100 miliar untuk membangun instalasi pengolah air. Dari sisi kami (pemkot), akan mempercepat urusan tanah, yakni menyelesaikan peta bidang," kata Rizal.

Pembangunan bendungan memang lambat meski anggaran pusat sudah ada sejak 2008. Pasalnya, urusan tanah yang menjadi tugas pemerintah daerah tidak kunjung kelar. Dari kebutuhan lahan seluas 317 hektar, yang baru dibebaskan 111 hektar.

"Kebutuhan tanah untuk waduk diperkirakan Rp 150 miliar. Ini berat bagi pemkot. APBD kami menyediakan Rp 34 miliar, ditambah nanti Rp 80 miliar bantuan pusat. Kekurangannya bisa dari APBD lagi," ujar Rizal.

Kondisi yang selalu terulang, menurut Jufriansyah, pemerhati masalah perkotaan, menunjukkan, Pemkot Balikpapan tak pernah berhitung tentang stok air dan kebutuhan. Balikpapan malah membangun hal yang belum perlu, seperti sirkuit balap.

Tahun 2014, Balikpapan dinobatkan sebagai kota paling nyaman dan layak huni di Indonesia berdasarkan survei Indonesia Most Livable City Index. Balikpapan, menyabet penghargaan lingkungan 3rd ASEAN Environmentally Sustainable Cities (ESC) Award 2014.

Tahun 2015, Balikpapan meraih Adipura Kencana untuk keempat kali. Tahun 2015, Balikpapan mendapat predikat kota yang paling dicintai di dunia dalam program We Love Cities oleh World Wildlife Fund Global. Namun, soal air bersih, Balikpapan tidak mampu mengatasi. 

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia