HomeSektor TransportasiTransportasi RegionalTiga Destinasi Wisata di Jabar Dikembangkan Jadi Kelas Dunia

Sumenep Bangun Dua Bandara

Tunggu Izin dari Kementerian Perhubungan

SURABAYA, KOMPAS — Pemerintah Provinsi Jawa Timur siap membangun bandar udara perintis di Pulau Kangean dan Pulau Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Sekitar 75.000 jiwa di kedua pulau itu sering terisolasi saat gelombang laut tinggi sehingga pesawat diharapkan jadi pilihan.

Sumenep, yang berada di ujung timur Pulau Madura, memiliki sejumlah kecamatan kepulauan, antara lain Kangean dan Masalembu. Dari Pulau Madura, Pulau Kangean berada sekitar 130 kilometer di sisi timur, sedangkan Pulau Masalembu berada sekitar 150 km di sisi utara.

Kepala Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan Jatim Wahid Wahyudi mengatakan, pembangunan kedua bandara itu sedang menunggu izin dari Kementerian Perhubungan. Khusus di Masalembu, pemerintah tinggal menghidupkan bandara lama milik PT Pertamina yang tidak terpakai. Izin dari PT Pertamina juga diperlukan. Jika prosesnya lancar, kedua bandara itu bisa beroperasi tahun 2018.

"Di Masalembu sudah ada landasan pacu sepanjang 900 meter dan nanti tinggal diperpanjang hingga 1.600 meter," kata Wahid, Kamis (7/6) di Surabaya. Sementara di Kangean sedang dibebaskan lahan di Desa Paseraman. Dari total kebutuhan lahan 18 hektar, sudah terbebaskan seluas 7 hektar. Landasan pacu akan dibangun 900 meter.

Pembangunan dua bandara itu diperkirakan membutuhkan dana Rp 160 miliar. Biaya itu akan ditanggung pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten. Pembahasan tentang pembagian porsi biaya masih berlangsung.

Di tempat terpisah, Bupati Sumenep Busyro Karim mengatakan, pulau-pulau terpencil di wilayahnya sangat bergantung pada angkutan laut sehingga pesawat terbang menjadi alternatif yang tepat. Saat cuaca buruk, tidak hanya mobilitas warga yang terganggu, tetapi distribusi bahan pokok ikut tersendat. "Pelayaran ditutup hingga dua pekan itu sudah biasa sehingga persediaan kebutuhan pokok didrop lewat udara," katanya.

Dalam kondisi cuaca baik, warga di Masalembu dan Kangean juga tidak selalu mendapat akses kapal untuk pergi ke luar pulau. Kapal perintis hanya melayani sekali dalam sepekan. Kapal berlayar memutar dari Surabaya kemudian mengitari pulau-pulau di Madura.

Selain masalah cuaca buruk, warga kepulauan juga bisa terisolasi ketika kapal-kapal perintis itu habis masa kontraknya. Hal itu pernah terjadi pada Januari 2015 di Masalembu saat tiga kapal perintis habis masa kontraknya sejak akhir Desember 2014 (Kompas, 22 Januari 2015).

Bandara Trunojoyo

Di pusat Kabupaten Sumenep, saat ini sudah ada Bandara Trunojo sehingga nantinya Sumenep memiliki tiga bandara. Hingga tahun 2015, maskapai Susi Air beroperasi di Bandara Trunojoyo dan digantikan PT Airfast Indonesia mulai tahun 2016. Di Bandara Trunojoyo, okupansi penumpang rute Surabaya-Sumenep baru mencapai 40 persen.

Meski demikian, Wahid optimistis bandara di Kangean dan Masalembu lebih laku karena selama ini akses ke wilayah tersebut hanya mengandalkan kapal. Penghitungan daya beli masyarakat dan perkiraan jumlah penumpang untuk kedua bandara baru masih dilakukan.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sumenep Moh Fadillah menambahkan, sarana di Bandara Trunojoyo masih terus ditingkatkan. Sejumlah fasilitas yang dikembangkan itu antara lain landasan pacu yang diperpanjang dari 1.130 meter menjadi 1.600 meter dan lebar 23 meter menjadi 30 meter. Untuk itu, pemerintah pusat telah menganggarkan dana APBN sebesar Rp 33 miliar. Sementara Pemkab Sumenep mengalokasikan anggaran untuk proses pembebasan lahan.

Menurut Fadillah, perpanjangan landasan pacu di Bandara Trunojoyo diharapkan selesai pada November tahun 2016 ini sehingga Desember bisa memasuki proses verifikasi dan bisa digunakan pada Januari 2017.

Dengan demikian, Bandara Trunojoyo bisa dimanfaatkan pesawat dengan kapasitas 72 penumpang dari sebelumnya pesawat berkapasitas 15 orang. Bahkan, pada 2017, Bandara Trunojoyo bisa melayani penerbangan komersial dengan rute ke Surabaya, Bali, dan Lombok.

Saat ini pesawat Airfast juga melayani rute ke Bawean di Gresik serta Karimunjawa dan Semarang di Jawa Tengah. Dari Sumenep, penumpang transit di Surabaya untuk melanjutkan ke Bawean atau Karimunjawa.

Busyro menambahkan, pihaknya tidak hanya mengebut pembangunan dan pembenahan bandara, tetapi juga mengembangkan beberapa kawasan obyek wisata. Pada 2016, Pemkab Sumenep menganggarkan pembangunan dermaga di Pulau Gili Labak, Kecamatan Talango, Sumenep, sebesar Rp 500 juta.

 

Pembangunan dermaga juga dilakukan di Desa Kombang sehingga wisatawan yang berangkat dari Desa Kombang tak kesulitan menyeberang ke Pulau Gili Labak. Dengan adanya bandara, sektor wisata di Madura, khususnya Sumenep, diharapkan akan lebih baik dan dapat meningkat drastis. 

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia