HomeSektor TransportasiJembatan Apung Pertama di Indonesia Siap Beroperasi 2017

Jalan Nasional di RI Banyak yang Rusak, Ini Penyebabnya

Jakarta - Jalur logistik Indonesia saat ini sangat bergantung kepada jalan darat. Berbeda dengan dahulu, di mana jalur kereta api menjadi andalan lalu lintas logistik hingga ke wilayah-wilayah perkebunan. Namun dengan seiring berkembangnya zaman, jalur kereta pun semakin berkurang seiring dengan penambahan ruas-ruas jalan baru.

Pemerintah membangun jalan nasional sebagai konektivitas dalam jalur logistik, sehingga bisa menekan biaya angkut dari barang yang dibawa.

 

"Di Indonesia ini, di atas 90% konektivitas itu, baik penumpang maupun barang sangat tergantung kepada jalan raya. Ruas jalan kereta api nya berkurang dari tahun ke tahun karena kita dorong di jalan raya. Ini satu tantangan tersendiri," kata Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Arie Setiadi Moerwanto saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (28/2/2017).

Namun demikian, pemerintah pun harus menanggung konsekuensi, karena angkutan barang kini lebih banyak menggunakan jalur darat. Faktanya, kendaraan yang membawa barang, seringkali muatannya melebihi dari kapasitas jalan tersebut. Tapi di satu sisi, biaya logistik juga ingin terus ditekan dengan membawa barang dengan jumlah semaksimal mungkin. 

Sejumlah ruas jalan nasional pun kini banyak yang rusak dan terus dilakukan penanganan oleh pemerintah. Arie mengatakan hal tersebut terjadi lantaran truk-truk yang melintasi jalan nasional tersebut membawa muatan melebihi beban maksimal dari jalan tersebut, sehingga membuat umur jalan terpangkas, dari yang tadinya 10 tahun menjadi hanya satu hingga dua tahun.

"Kerugiannya adalah umur jalan kita menjadi lebih pendek. Yang tadinya kita rancang 10 tahun, sekarang 1 tahun atau maksimum 2 tahun jadi rusak semuanya. Kita lihat sekarang, kondisi nyatanya kan seperti itu (berlubang). Semua yang melalui Pantura, lintas Sumatera, itu overload semuanya. Kita punya problem di Jembatan Cisomang dan lain-lain, itu semuanya karena overload," tutur Arie.

 

"Problemnya adalah, semua asosiasi logistik ingin membuat user cost murah, dengan meninggikan tekanan ganda. Karena kan kalau ngangkut lebih, dia kan lebih murah. Tapi di authority cost-nya mahal. Jadi si pengelola jalan (Bina Marga) harus menanggung biaya yang lebih tinggi," pungkasnya.

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia