HomeSektor Tata RuangStruktur RuangWisata di Tapal Batas Ini Bakal Dibangun, Begini Rencana Besarnya

Wisata di Tapal Batas Ini Bakal Dibangun, Begini Rencana Besarnya

Wisata di Tapal Batas Ini Bakal Dibangun, Begini Rencana Besarnya

Jakarta - Distrik tapal batas di Kota Jayapura, Muara Tami, punya rencana besar membangun sektor pariwisata. Akan jadi seperti apa wajah beranda negara ini?

Ada deretan destinasi wisata di distrik yang berbatasan langsung dengan Wutung, Papua Nugini ini. Dari pojok paling barat, ada Jembatan Hamadi-Holtekamp, calon ikon baru Kota Jayapura yang sejauh ini masih dalam tahap pengerjaan. Di sisi paling timur, ada Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Skouw yang saat ini menjadi primadona tujan wisata.

"Sayangnya potensi-potensi ini belum dimaksimalkan sehingga belum berdampak pada pertumbuhan ekonomi," kata Kepala Distrik Muara Tami, Supriyanto, saat berbincang dengan detikcom di Kota Jayapura, Rabu (5/9/2018).

Ide membangun pariwisata perbatasan ini muncul dari pemerintah daerah serta pemerintah pusat. Rencananya, semua destinasi pariwisata di sini akan dibuat dalam jalur yang berkesinambungan. Tujuannya adalah meningkatkan sektor ekonomi masyarakat perbatasan.

"Kami pemerintah sedang menyusun DED (Detail Engineering Design)-nya," kata Surpiyanto. "Tahun depan, pembangunan fisiknya dikerjakan."

 

Laju kendaraan dari Kota Jayapura ke arah perbatasan selalu deras tiap akhir pekan dan hari libur. Bila Jembatan Hamadi-Holtekamp rampung dan beroperasi pada 20019 mendatang, maka diperkirakan Muara Tami bakal makin semarak. Hingga saat ini, PLBN Skouw di Muara Tami bisa dicapai dari Jayapura dalam waktu kurang lebih dua jam. Bila Jembatan Hamadi-Holtekamp sudah digunakan, maka waktu tempuh ke PLBN bisa berkurang setengah jam.

"Jadi kalau kita menjual paket wisata Muara Tami, kita disambut oleh gerbang Jembatan Hamadi-Holtekamp. Kemudian masuk Holtekamp disambut dengan destinasi wisata pantainya, masuk ke kawasan Koya disambut kawasan pemancingan air tawar dan edukasi pertanian dan perikanan air tawar. Di Skouw, wisatawan akan disambut dengan destinasi wisata kampung adat dan pantai," tuturnya soal rencana besar pembangunan pariwisata.

Di tiga Kampung Skouw, yakni Skouw Yambe, Skouw Mabo, dan Skouw Sae, ombak Samudera Pasifik menanti para peselancar. Ada pula penangkaran penyu di situ. Wisatawan dari arah barat bisa mengarahkan kemudinya ke lokasi-lokasi itu, kemudian ke PLBN Skouw, dan akhirnya ada sumber mata air panas di Kampung Mosso. Khusus untuk yang terakhir ini, lokasinya masih sangat sulit diakses. Bila sudah digarap dengan baik, mata air panas itu bakal menjadi destinasi pamungkas rangkaian wisata tapal batas Muara Tami.

"Dan nanti akan ditutup dengan mata air panas," ujar Supriyanto.

Pemerintah pusat lewat program percepatan pembangunan kawasan perbatasan membantu pengembangan infrastruktur dan fasilitas air bersih. Karena kedua hal itu sudah beres, kini saatnya tahap pembangunan perekonomian, dalam hal ini membangun pariwisata. Langkah pertamanya adalah membangun tempat peristirahatan alias rest area.

 

"Yang pertama membangun rest area. Ada tiga titik nanti direncanakan, yakni satu, di kawasan Jembatan Hamadi-Holtekamp mengakomodasi orang berfoto dan berselfie ria di atas jembatan. Di Skouw akan dibangun rest area juga, tidak jauh dari kantor distrik kami. Kemudian yang satu di kawasan PLBN," tutur Supriyanto. 

Di depan Kantor Distrik Muara Tami, alun-alun akan dibangun dan dilengkapi dengan informasi wisata. Tiga kampung Skouw akan digarap sebagai tujuan wisata budaya.

"Maka dengan adanya spot wisata kampung adat, maka akan menarik orang hadir, maka perekonomian akan tumbuh. Ada homestay hingga parkir, menjajakan kerajinan hingga cenderamata," ujarnya.

Ngomong-ngomong, dari mana dana untuk pembangunan itu? "Progrm dari kementerian pusat langsung. Nah, harapan kami daerah lewat kampung-kampung juga memberikan perhatian dengan cara sharing anggaran (menganggarkan dana desa)," tuturnya.

 

Setiap kampung di Muara Tami mendapatkan dana desa dari pemerintah pusat ditambah 10 persen dari APBD Provinsi Papua. Supriyanto berharap kampung-kampung mampu mengelola duit itu dengan baik dan menganggarkan demi pembangunan pariwisata, karena pembangunan jalan beton hingga listrik sudah tergarap dan dibantu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Dana desa atau dana kampung di kami cukup fantastis ya," kata dia. "Mereka paling sedikit memperoleh Rp 6 miliar. Paling sedikit Rp 6,5 miliar. Paling banyak Rp 8 miliar (per kampung)."


Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia