HomeSektor Tata RuangPerkotaanSmart City di Indonesia

Smart City di Indonesia

 Smart City di Indonesia

Perkembangan teknologi telah berhasil menyusup ke seluruh sendi kehidupan. Sebabnya, teknologi mampu menawarkan berbagai kemudahan dan manfaat bagi penggunanya. Apalagi seiring berjalannya waktu, teknologi terus berkembang pesat menjadi semakin canggih, maka tak ayal jika perkembangan pembangunan perkotaan pun menitikberatkan pada pemanfaatan teknologi informasi (IT) sebagai penunjangnya. Diharapkan dengan adanya penerapan IT, perencanaan sampai pengelolaan semua aspek perkotaan menjadi semakin mudah, efisien dan efektif. kondisi tersebut yang kemudian disebut dengan kota cerdas atau smart city.

Pada hakikatnya, konsep smart city telah mulai muncul pada tahun 1960 – 1970 an, ketika Community Analysis Bureau atau Biro Analisis Komunitas di Los Angeles menggunakan basis data komputer, analisis kluster dan fotografi udara inframerah untuk membuat laporan demografi lingkungan dan kualitas perumahan dalam rangka upaya mencegah penyebaran penyakit dan mengentaskan kemiskinan. Kemudian penggunaan teknologi komputer untuk perencanaan tata kota semakin berkembang dan mulai diterapkan di beberapa kota di Amerika. Pada tahun 2007, istilah smart city mulai resmi digunakan, ketika terbentuk institusi studi smart city Eropa dengan laporannya “Smart cities : Ranking of European Medium Sized Cities”. Kemudian pada tahun 2009, IBM mengeluarkan dokumen tentang penjelasan konsep smart city beserta indikator-indikatornya (smart governance, smart living, smart transportation, smart infrastructure, smart economy, smart people).

Di Indonesia, bentuk penerapan konsep smart city sudah mulai dikembangkan pada tahun 1994 dengan mulai menerapkan teknologi ATCS (Area Traffic Control System) pada sistem kendali lalu lintas. Teknologi ATCS yang dilengkapi sensor berfungsi mengatur waktu nyala lampu lalu lintas secara real time sesuai kondisi lalu lintas saat itu. Teknologi ini diterapkan di 3 kota besar yaitu Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Kemudian pada tahun 1999, pemerintah mengeluarkan UU No. 36 Tahun 1999 tentang telekomunikasi dan Inpres No. 6 Tahun 2001 tentang pengembangan dan pendayagunaan telematika di Indonesia untuk mendukung tercapainya good governance dan porses demokrasi, sehingga mulai bermunculan website-website pemerintah.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharani mulai mewujudkan smart governance pada tahun 2010 dan kemudian berhasil dinobatkan sebagai kota terbaik dalam peningkatan e-Government Indonesia 2012. Pemkot Surabaya terus melakukan inovasi dalam implementasi smart city dan berhasil meluncurkan Surabaya Intelligence Transportation System (SITS) yang memadukan teknologi ATCS dan jaringan CCTV untuk menjalankan manajemen transportasi secara otomatis. Selain itu, Pemkot juga meresmikan Command Center yang dilengkapi dengan sejumlah layar pantau guna memudahkan pelayanan pengaduan bagi masyarakat dan memantau kondisi kota Surabaya 24 Jam. Command Center ini melibatkan Satpol PP, Bakesbangpol dan Linmas, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Perhubungan, Dinas PU Bina Marga dan Pematusan serta Pemadam Kebakaran.

Sebelum Surabaya, Kota Jakarta telah lebih dahulu menerapkan Intelligent Transportation System pada tahun 2011. Sistem ini mencakup 3 komponen yaitu bus tracking system (BTS), area tracking control system (ACTS) dan traffic information system (TIS) yang diharapkan mampu membantu mengendalikan arus lalu lintas dan memberikan informasi secara akurat mengenai kondisi lalu lintas secara real time kepada penggunanya. Kemudian tahun 2014, Pemkot Jakarta meluncurkan program Jakarta Smart City dan tahun berikutnya Pemkot membangun command center yang berfungsi sebagai pusat pemantauan kondisi kota dan pelayanan pengaduan bagi masyarakat. Pembangunan Command Center ini sebagai bukti komitmen Pemkot dalam mewujudkan Jakarta Smart City.

Perkembangan smart city kini semakin menjadi tren di beberapa daerah di Indonesia. Semenjak pemerintah meluncurkan program Gerakan Menuju 100 Smart City pada tahun 2017, sampai saat ini telah ada 50 Kabupaten/Kota yang terpilih sebagai perintis konsep smart city, di antaranya Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Bantul, Kabupaten Blitar, Kota Depok, Kota Banjarbaru, dan lain-lain. Pada April 2018, bahkan Provinsi DKI Jakarta, kabupaten Banyuwangi, dan kota Makassar terpilih menjadi ASEAN Smart Cities Network (ASCN).

Dalam pengembangan smart city di setiap daerah perlu pendekatan yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh adanya keragaman karakteristik demografi, sosial, ekonomi, kearifan lokal, dan permasalahan yang ada di setiap daerah. Seperti yang dikutip dari smartcitiesdive.com, Amen Ra Mashariki, Head of Urban Analytics (Esri)dalam acara Smart City Week di Washington DC (10/10/2018) menyampaikan bahwa Smart city harus mampu mencakup semua warganya dengan memenuhi kebutuhan setiap individunya yang berbeda-beda di kota tersebut. Dikutip dari Detik.com (06/03/2016) Prof. Suhono, ketua Asosiasi Prakarsa Indonesia Cerdas menjelaskan bahwa smart city adalah kota yang paling cepat dan akurat memberikan solusi kepada warganya, kota harus bisa mengelola sumber daya alam, (SDA), sumber daya manusia (SDM), dan sumber daya lainnya agar warganya bisa hidup nyaman aman, dan berkelanjutan. Maka Pemkot atau Pemkab harus mampu mengelola sumber daya yang dimiliki dengan dukungan teknologi, informasi, dan komunikasi agar terwujudnya smart city yang berkelanjutan.

Seperti di Kabupaten Banyuwangi yang memiliki program Smart Kampung sebagai program unggulan dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan pelayanan publik sampai level desa. Kota Tangerang dengan aplikasi Tangerang Life Room yang mengintegrasikan 170 aplikasi demi meningkatkan pelayanan publik warganya. Kota Makassar memiliki program-program unggulan seperti Home Care, Longset (Lorong sehat), War Room, dan Pedestrian Bintang 5. Selain itu, kota Malang memiliki NCC (Ngalam Command Center) sebagai langkah awalnya untuk mengembangkan smart city di kotanya, dan beberapa kabupaten/kota lainnya yang terus mengupayakan terwujudnya smart city di daerahnya kedepan.

Tentu saja pengembangan smart city tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik saja seperti penyediaan jaringan internet yang memadai, melainkan penting mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang handal di bidang IT untuk menjalankan program-program smart city dan masyarakat yang siap memanfaatkan fasilitas yang mendukung smart city. Seperti kesulitan yang dihadapi pemkab Magetan dalam mengembangkan smart city di daerahnya, keterbatasan jumlah SDM ahli di bidang pengelolaan smart city mendorong pemerintah perlu menyiapkan strategi manajemen SDM. Selain itu, masyarakat sebagai pengguna sekaligus subjek pembangunan perlu mendapatkan edukasi terkait pemanfaatan IT yang baik dan bijaksana serta diperkenalkan dengan program-program yang ada sehingga menstimulasi masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam mewujudkan keberhasilan smart city.

Di masa mendatang, penerapan smart city diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kinerja pemerintah dan kehidupan masyarakat. Pemerintah lebih siap menghadapi kompleksitas permasalahan ke depan dan mampu memberikan solusi secara efektif dan efisien melalui program-program smart city berbasis teknologi informasi yang telah dikembangkan. Di sisi lain, apabila konsep smart city berhasil diterapkan secara menyeluruh meliputi seluruh aspek, perencanaan pembangunan yang cerdas, pengelolaan limbah dan air yang cerdas, transportasi pintar, dan lainnya, akan mampu menciptakan lingkungan hidup yang nyaman, sehat, aman, dan kondusif. Pada akhirnya, dengan konsep smart city maka kualitas hidup masyarakat dapat meningkat.

Share For Social Network

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia