HomeSektor Tata RuangPerkotaanTata RuangDKI Jakarta Perlu Perubahan

Profesor Johan Silas Talk about the Existence of Parks

Prof. Johan Silas Talk about the Existence of Parks

Keberadaan taman saat ini sangat diminati oleh masyarakat untuk berinteraksi sosial, berolahraga, juga bermain. Taman-taman kota di Indonesia juga mulai mengalami peningkatan baik secara jumlah maupun fasilitas, hal ini mempengaruhi minat masyarakat mengunjungi taman. Kota-kota di Indonesia telah mulai membenahi taman kotanya seperti Jakarta dan Surabaya. Keberadaan taman juga dapat menjadi sebuah icon sebuah kota.

Prof. Johan Silas, salah satu guru besar tata kota Indonesia, telah memberikan sumbangsihnya dalam perencanaan permukiman dan perkotaan, serta perbaikan kampung. Program Perbaikan Kampung (Kampung Improvement Program) di Kota Surabaya merupakan salah satu program yang berhasil dicapai. Pada kesempatan ini, PSII melakukan wawancara singkat dengan Prof. Johan Silas untuk melihat bagaimana keberadaan taman kota dan perkembangan taman kota di Indonesia yang juga dipicu oleh keberhasilan program Adipura sejak 1980an.

Menurut bapak, seberapa signifikan keberadaan taman dalam fungsi perkotaan?

Menurut saya untuk masa kini taman kota memiliki lima fungsi dalam memenuhi kehijauan sesuai jumlah penduduk agar polusi yang ditimbulkannya dapat diminimalisir. Jadi, seharusnya luas taman tidak dibandingkan dengan luas kota/lahan, tetapi jumlah warga yang menghuninya. Jadi, taman memiliki fungsi vital dalam menjamin kehidupan warganya secara total.

Lima fungsi taman adalah menyerap polusi udara, memberikan kesejukan jiwa (mengura- ngi stress mental), menyediakan oksigen serta menurunkan temperatur, mengurangi jumlah air permukaan saat turun hujan sehingga menurunkan beban banjir, serta tempat rekreasi/ olahraga bagi warga (taman aktif).

Bagaimana kondisi taman kota (kelebihan dan kekurangan) di Indonesia saat ini menurut Bapak?

Berdasarkan paparan Adipura yang ditampilkan oleh sekitar 130 kota pada tanggal 6-15 Juni 2017, ternyata Adipura sangat efektif dalam mendorong kota mulai dari skala metro sampai kota kecil untuk menghadirkan taman yang cukup, meskipun masih banyak kota yang memiliki RTH di bawah 30% termasuk Jakarta dan Bandung. Adipura adalah program perkotaan tertua yang diadakan pertama kali pada tahun 1986. Sampai saat ini belum ada program sejenis yang dapat menandingi dan berkelanjutan sampai sekarang.

Melihat kondisi taman kota saat ini, apa saran Bapak untuk meningkatkan kualitas taman kota?

Dari sisi pelayanan, taman kota harus diusahakan secara prioritas pada kelima fungsi yang sebelumnya saya sampaikan sesuai kemampuan warga dan pemerintah. Penyediaan taman harus mempertimbangkan pelayanan pada warga lapis bawah yang di permukimannya tidak mungkin disediakan RTH seperti kampung. Di Surabaya sebaran taman sangat memperhatikan keberadaan kampung.

Bagaimana Bapak melihat keberadaan taman kota dan hubungannya dengan kesejahteraan masyarakat saat ini, khususnya di Kota Surabaya?

Secara sederhana dan nyata, Surabaya sudah bertahun-tahun tidak mengenal tawuran dalam bentuk apapun dan tidak ada demo yang anarkis. Dari segi kesehatan hampir semua penyakit menunjukkan penurunan yang signifikan dan ini sangat mengurangi beban APBD kota yang menjamin pelayanan kesehatan gratis dengan cukup menunjukkan KTP.

Yang perlu dikemukakan adalah penetapan tema taman yang dilakukan oleh banyak kota. Tema pada umumnya tidak terkait dengan pelayanan pada warga saja, tetapi lebih pada segi estetisnya seperti Taman Mawar, Taman Pelangi dan sebagainya. Di Surabaya ada Taman Lansia, Taman Paliatif, Taman Prestasi, Taman Kreatif, Taman Kesehatan, Taman Bunga, Taman bungkul (religius) dan sebagai- nya. Yang saat ini sudah dikembangkan (dalam proses berlanjut) adalah Taman Tunanetra mungkin yang pertama di dunia.

Hampir semua taman ada wifi gratis serta banyak yang dilengkapi dengan Broadband Learning Centre (BLC) di mana semua warga dapat belajar (ada instruktur ahli) mengenal dan memakai komputer yang tersambung ke internet tanpa membayar apapun. Selain sebagai tempat bermain dan olahraga, taman dengan BLC juga digunakan untuk memantapkan pembentukan warga yang smart sebagai prasyarat smart city.

Surabaya juga telah menunjukkan bahwa bekas TPA dapat diubah menjadi taman bunga terbesar se-Indonesia di daerah dataran dengan luas sekitar 50 hektar. Surabaya menunjukan bahwa bunga dalam skala besar dapat ditanam tidak harus di daerah tinggi dan dingin. Saat ini, hampir 30% telah berfungsi. Taman Surabaya (Kenjeran) merupakan daerah rawa yang disulap menjadi taman di mana masyarakat dapat menikmati angin laut dan pemandangan ke jembatan Suramadu dan Suroboyo. Semua taman tidak berbayar sesenpun. Taman juga ikut menjaga tepian sungai dari muara sampai hulu Kalimas.

Share For Social Network

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia