HomeSektor LingkunganDampak dan Kerusakan LingkunganPolusi Udara Lebih Bahaya dari Rokok Tembakau?

Polusi Udara Lebih Bahaya dari Rokok Tembakau?

 Polusi Udara Lebih Bahaya dari Rokok Tembakau?


Penelitian terbaru yang dipublikasikan di Heart European Journal pada senin (11/3) kemarin mengungkapkan fakta baru. Polusi udara diduga menjadi penyebab 800.000 kematian setiap tahun di Eropa dan 8,8 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia. Di sisi lain, World Health Organization (WHO) mengestimasi kematian akibat rokok mencapai 7,2 juta di tahun 2015, ini berarti polusi udara menyebabkan kematian lebih banyak dibandingkan rokok tembakau.  

“Jumlah kematian disebabkan oleh polusi udara lebih besar dibandingkan rokok tembakau,” ucap Prof. Thomas Munzel, salah satu penelti  dari the University Medical Centre Mainz, Germany. Beliau juga menambahkan “rokok dapat dihindari sedangkan polusi udara tidak”.

Perkiraan angka kematian akibat polusi udara didapat dari kalkulasi 3 set data yaitu paparan polusi udara, usia dan kepadatan penduduk, serta dampak kesehatan dari udara beracun. Angka kematian yang dihasilkan lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan penelitian sebelumnya, karena sekarang sudah ada data terbaru mengenai dampak yang lebih luas dari polusi udara seperti diabetes, tekanan darah tinggi, sehingga meningkatkan perkiraan jumlah kematian.

Namun para peneliti juga mengakui terdapat banyak ketidakpastian dalam perkiraan mereka terkait angka kematian di Eropa, yang berkisar antara 645.000 sampai 934.000. Beberapa kasus kematian dapat disebabkan oleh faktor lain, selain polusi udara.

Perkiraan jumlah kematian tiap wilayah berbeda-beda tergantung dari kondisi lingkungan dan demografi. Di Eropa, jumlah kematian akibat polusi udara sangat tinggi karena paparan polusi udara di sana termasuk tertinggi di dunia, akibat kombinasi antara kualitas udara yang buruk dan kepadatan populasi.

Dampak polusi udara di Jerman menyebabkan 154 kematian per 100.000 orang dengan penurunan usia harapan hidup mencapai 2,4 tahun. Di Inggris, terdapat 98 kematian per 100.000 orang dan perkiraan usia harapan hidup berkurang 1,5 tahun. Prof. Jos Lelieveld dari Max-Plank Institute for Chemistry in Mainz, menuturkan jika tingkat kematian di Inggris lebih rendah dapat disebabkan adanya angin atlantik yang berhembus membantu menghamburkan polusi.

Dalam penelitian ini memaparkan bahwa ketika polusi udara mengenai paru-paru, maka akan masuk ke dalam aliran darah sehingga dapat mengakibatkan penyakit jantung dan stroke.  Padahal tingkat kematian akibat penyakit jantung lebih tinggi dibandingkan penyakit pernapasan lainnya.

Munzel menyampaikan bahwa polutan berupa partikel kecil berukuran < 2,5 mm (PM 2.5) selama ini tidak diperhatikan ketika menangani penyakit kardiovaskular (cardiovascular disease/CVD). Padahal menurutnya pedoman pencegahan CVD seharusnya mengadopsi polusi udara sebagai faktor risiko yang penting. Selain itu, Munzel juga mendesak pemerintah untuk merevisi batas PM 2.5 di Eropa, karena standar batas yang diterapkan saat ini dua kali lebih tinggi dari standar WHO, sedangkan di Australia dan Kanada telah menerapkan standar WHO di negara mereka.

Kemudian Eropa juga harus segera beralih menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT) yang bersih, karena sumber polutan udara terbesar berasal dari proses pembakaran bahan bakar fosil seperti kendaraan, kegiatan industri, pembangkit-pembangkit listrik. Lelieveld menjelaskan jika penggunaan EBT tidak hanya memenuhi perjanjian Paris Agreement untuk mitigasi dampak perubahan iklim, namun juga dapat mengurangi tingkat kematian akibat polusi udara mencapai 55%.

Berdasarkan hasil penemuan tersebut membuka mata kita akan bahaya polusi udara secara lebih luas. Polusi udara dapat merenggut nyawa jutaan orang namun seringkali kurang diperhatikan, ditambah pemahaman masyarakat mengenai bahaya polusi udara masih rendah.

Berbeda halnya dengan bahaya rokok yang selama ini gencar digaungkan. Banyak kampanye, iklan, seminar yang membahas bahaya rokok menjadikan masyarakat lebih waspada dan memahami bahaya rokok. Selain itu, masyarakat juga lebih mudah menjaga jarak atau menghindari rokok, sedangkan polusi udara sangat sulit dihindari terutama ketika kita sedang beraktivitas di luar ruangan.

Sudah saatnya bagi pemerintah selaku pemangku kebijakan untuk mengambil langkah kongkrit mengatasi ancaman serius ini melalui peraturan dan hukum yang ketat dan tegas. Pemerintah juga perlu mengedukasi masyarakat tentang bahaya polusi udara, serta melibatkan partisipasi mereka karena menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bebas polusi merupakan tanggung jawab bersama. Masyarakat bisa ikut andil dalam mengurangi polusi udara, seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum, bijak dalam konsumsi energi listrik, dan membuat taman atau kebun di sekitar tempat tinggal. 

 

 

 

 

 

 

 

 

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia