HomeSektor LingkunganDampak dan Kerusakan LingkunganTumpahan Minyak di Pulau Pramuka Masih Diselidiki

Tumpahan Minyak di Pulau Pramuka Masih Diselidiki

JAKARTA, KOMPAS — Tumpahan limbah minyak mentah mengotori perairan sepanjang pesisir Pulau Pramuka, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kepulauan Seribu. Pemerintah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu belum dapat memastikan jenis dan sumber limbah tersebut karena hingga berita ini diturunkan proses penyelidikan masih berlangsung.

Hingga Selasa (12/4), limbah minyak itu juga ditemukan di pesisir pantai Pulau Karya yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari Pulau Pramuka.

Proses identifikasi jenis minyak tengah dilakukan Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kepulauan Seribu. Sementara itu, untuk proses penyisiran dan pembersihannya, Pemerintah Kepulauan Seribu dibantu kapal milik PT China National Offshore Oil Corporation (CNOOC   ), perusahaan yang melakukan operasi eksplorasi dan eksploitasi migas di kawasan Kepulauan Seribu.

"Saat minyak tersebut sudah teridentifikasi sebagai minyak mentah atau bahan bakar, kita dapat mengetahui apakah limbah ini berasal dari kapal yang lewat atau dari pipa minyak yang bocor," kata Bupati Kepulauan Seribu Budi Utomo, kemarin.

Belum diketahui juga apakah limbah di pesisir laut Pulau Karya merupakan bagian dari limbah di pesisir Pulau Pramuka yang sebagian besar telah dibersihkan. Budi memastikan tumpahan minyak di Pulau Karya baru muncul karena petang hari sebelumnya belum ditemukan.

Limbah minyak tersebut terlihat jelas berupa flek-flek berwarna coklat pekat di atas air laut. Budi telah meminta KLH Kepulauan Seribu agar dapat segera menyelesaikan dan menyerahkan hasil identifikasi hari ini, Rabu (13/4).

Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan MR Karliansyah mengatakan, secara penampakan fisik, minyak yang mengotori Pulau Pramuka dan Pulau Karya bukan minyak mentah (crude oil). "Kami sudah ambil sampel untuk memastikan serta mengetahui finger printminyaknya," katanya.

Ia mengatakan, pembersihan tumpahan minyak telah tuntas di Pulau Karya, yang akan menjadi lokasi kunjungan Presiden Joko Widodo, Kamis (14/4). Namun, untuk Pulau Pramuka, yang sepertiga keliling pulaunya terkontaminasi minyak, pembersihan belum tuntas.

Ia mengatakan, tumpahan minyak berasal dari arah timur laut. Ada kemungkinan tumpahan minyak berasal dari lalu lintas kapal.

Di tempat terpisah, Wakil Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Anwar menduga limbah minyak yang muncul sejak Senin pagi itu berasal dari kebocoran pipa. Hal ini berdasarkan pengalaman serupa yang pernah terjadi tahun sebelumnya.

"Tahun lalu, pipa PT CNOOC pernah bocor, tetapi kali ini PT itu belum dapat memastikan pipa mereka bocor karena masih dalam proses penyisiran. Kita tunggu saja hasil identifikasi dari KLH," ujarnya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, yang meninjau Pulau Pramuka, Selasa, menyayangkan pencemaran limbah tersebut yang berdampak pada kerusakan ekosistem di sekitarnya.

Ancam biota laut

Menurut pakar pencemaran laut dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Agung Dhamar Syakti, tumpahan minyak ini membuat ribuan tanaman mangrove dan lamun terancam mati. Kontaminasi hidrokarbon aromatik pada kerang, kepiting, dan ikan pun bisa berdampak buruk apabila dikonsumsi manusia.

Agung, yang juga Koordinator Pusat Studi Biosains Maritim, mengatakan, limbah minyak itu bisa menempel di ribuan mangrove yang ditanam relawan dan petugas Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu di Pulau Pramuka. "Kalau sampai mengenai akar napas, mangrove bisa mati," kata Agung.

Tumpahan minyak pun bisa menempel atau terkonsumsi biota laut yang biasa dimakan manusia. Rantai hidrokarbon yang bersifat aromatik juga bersifat karsinogenik (penyebab kanker) jika terkonsumsi manusia.

Agung menyarankan, selama tiga pekan hingga sebulan mendatang, warga tidak mengonsumsi biota laut yang hidup di areal tumpahan minyak. Hal ini bisa menimbulkan kerugian bagi para nelayan. Akan tetapi, kata Agung, ganti rugi dari pihak yang menumpahkan minyak ini bisa digunakan untuk menutup kerugian nelayan. 

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia