HomePembiayaanIMF Minta Pemerintah Segera Berlakukan UU JPSK

IMF Lebih Pesimistis Terhadap Ekonomi RI Dibanding Bank Dunia

Jakarta, CNN Indonesia -- Dana Moneter Internasional (IMF) dalam rilis Article IV memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,9 persen pada tahun ini, lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 4,7 persen.

Kepala Misi IMF untuk Indonesia, Luis E. Breuer menyatakan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami sedikit percepatan pada 2016, setelah melambat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini didukung tingginya belanja investasi publik dan meningkatnya sentimen terhadap reformasi ekonomi Indonesia.

"Secara keseuruhan kinerja ekonomi makro pada tahun 2015 sangat positif. Akan tetapi pelemahan harga-harga komoditas serta perlambatan permintaan dari negara-negara mitra dagang memberikan tantangan yang berat bagi pertumbuhan," ujar Luis dalam teleconference dengan media di Jakarta, Selasa (15/3).

Sementara dari sisi moneter, Luis menilai kebijakan moneter ketat yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) pada tahun lalu cukup efektif meredam tekanan inflasi. Namun, ia berharap BI mulai melakukan pelonggaran moneter secara bertahap selama inflasi terkendali dan kondisi pasar keuangan stabil.

"Kami mengakui bahwa sistem keuangan Indonesia sehat, tapi kami menyerukan adanya pengawasan yang ketat terhadap hal-hal yang masih rentan, khususnya menghadapi risiko gejolak pasar keuangan China," katanya.

Pada saat yang sama, Bank Dunia merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi  Indonesia yang lebih optimistis dibandingkan dengan IMF. Lembaga donor tersebut memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen pada 2016 dan berpeluang naik menjadi 5,3 persen pada tahun depan.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Ndiame Diop menilai ekspansi fiskal yang dilakukan pemerintah pada tahun ini akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, dorongan pertumbuhan akibat ekspansi fiskal mesti tertahan akibat kondisi pelemahan global yang memburuk.

"Minat investasi sektor swasta tahun ini masih tertolong oleh paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah, namun kami juga menyoroti dampak perlambatan ekonomi global terhadap pelemahan konsumsi sektor swasta," ujar Diop dalam paparan perkembangan ekonomi triwulanan Bank Dunia di Jakarta, Selasa (15/3).

Menurutnya, stimulus fiskal masih sangat dibutuhkan pada tahun ini untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional. Namun, Diop menyayangkan realisasi penerimaan negara yang kemungkinan akan lebih rendah dari perkiraan akibat berlanjutnya tren pelemahan harga komoditas.

"Untuk menjaga belanja modal membutuhkan defisit fiskal yang lebih besar yakni 2,8 persen dari PDB dan pemotongan alokasi belanja yang non prioritas," tutur Ndiame.

Dengan defisit yang diperkirakan mencapai 2,8 persen, Bank Dunia mengkalkulasi kebutuhan anggaran sebesar Rp711 triliun atau 5,6 persen dari PDB untuk menambal defisit dan mendanai program-program pembangunan pemerintah pada tahun ini. 

"Bagaimanapun tahun lalu, pemerintah secara proaktif telah berhasil menjaga risiko anggaran, salah satunya dengan strategi frontloading," ujarnya. 

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia