HomeEnergiEnergi TerbarukanKalbar Dinilai Sudah Saatnya Kembangkan Listrik dari Tenaga Nuklir

Kalbar Dinilai Sudah Saatnya Kembangkan Listrik dari Tenaga Nuklir

Kalbar Dinilai Sudah Saatnya Kembangkan Listrik dari Tenaga Nuklir


Bisnis.com, PONTIANAK - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menilai Kalimantan Barat memang sudah seharusnya mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir untuk mendukung rencana industrialisasi provinsi tersebut.

Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktivitas Kemenristekdikti Agus Puji Prasetyono mengatakan apabila Kalimantan Barat ingin menjadi daerah industri, perlu memiliki listrik yang andal. Ada sejumlah industri yang berencana membangun pabrik maupun melakukan ekspansi di Kalimantan Barat dengan kebutuhan energi listrik total mencapai 1.800 MW. Kebutuhan listrik tersebut belum ditambah dengan kebutuhan rumah tangga, fasilitas umum, dan pariwisata yang membutuhkan pasokan listrik dari semula 541 MW pada 2018 menjadi 3.783 MW pada 2027.

Sementara, saat ini Kalimantan Barat mengalami defisit listrik dan memenuhinya dengan melakukan impor dari Serawak, Malaysia sebesar 200 MW atau sekitar 30% dari kebutuhan energi listrik saat ini.

Menurutnya, jika mengembangkan pembangkit dari energi fosil akan meningkatkan emisi di Kalimantan Barat. Pilihan pembangunan pembangkit ada pada energi bersih seperti air, geothermal, dan nuklir. Jika menggunakan pembangkit tenaga air, kapasitasnya tidak memadai di Kalimantan Barat begitu juga dengan geotermal. Hanya pembangkit nuklir yang dinilai cocok dikembangkan di Kalimantan Barat.

Apalagi, Kalimantan Barat memiliki deposit uranium sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan total 45.730 ton. Pembangunan pembangkit tenaga nuklir juga tepat dilakukan karena kondisi geografis provinsi tersebut yang relatif aman dari gempa.

"Pemerintah Kalimantan Barat juga setuju dengan pembangunan PLTN agar menjadi provisni industri dan menyongsoong kepindahan ibukota baru," katanya kepada Bisnis, Selasa (21/5/2019).

Agus menjelaskan, pihaknya telah melakukan kajian pembangkit nuklir di Kalimantan Barat pada 2016 lalu. Berdasarkan kajian tersebut, terdapat sembilan tapak yang telah dilakukan studi awal dan memiliki potensi untuk dibangun PLTN di Kalimantan Barat.. Sembilan tapak tersebut yakni Desa Salatiga di Sambas, Pantai Simping di Singkawang, Tanjung Batu Belah di Singkawang, Pantai Gosong, di Bengkayang, Tanjung Suak di Bengkayang, Pulai Temaju di Mempawah, Pulau Kumbang di Kayong Utara, Pawan di Ketapang, , dan Bagara Mentimun di Ketapang.

Menurutnya, jika nantinya Kalimantan Barat akan membangun PLTN, ada dua pilihan jenis pembangkit yang dapat dikembangkan yakni small modular reactors (SMR) untuk mensupali listrik ke fasilitas umum maupun kebutuhan rumah tangga dan large scale untuk kebutuhan industri.

Sebagai tahap awal, Kemenristekdikti mengusulkan Kalimantan Barat mengembangkan PLTN jenis SMR dengan kapasitas 100 MW. Kapasitas pembangkit ini memang terhitung kecil tetapi dinilai tepat untuk memberikan pengenalan mengenai PLTN.

"PLTN dengan kapasitas besar berdasarkan hitungan kita memiliki biaya pokok penyediaan (BPP) sebesar US$3,5 cent per kwh sementara kapasitas kecil sekitar US$7 sampai US$8 cent per kwh, masih jauh dibawah BPP kalbar," katanya.

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia