HomeEnergiEnergi TerbarukanPLTBm Siantan Mampu Hasilkan Listrik 10 Megawatt

PLTBm Siantan Mampu Hasilkan Listrik 10 Megawatt

PLTBm Siantan Mampu Hasilkan Listrik 10 Megawatt

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk pertama kalinya, Provinsi Kalimantan Barat memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm).

PLTBm yang terletak di Desa Wajok Hulu, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat ini sekaligus menjadi PLTBm pertama yang di bangun oleh swasta di daratan Kalimantan.

PLTBm Siantan ini mampu menghasilkan listrik hingga 10 megawatt (MW) yang nantinya akan terhubung dengan jaringan PLN guna memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengatakan, dengan dibangunnya PLTBm di Kawasan Kalimantan Barat ini dapat membantu PLN dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan listrik.

“Ini menambah kapasitas kemampuan listrik di Kalimantan Barat. Lokasi di Kalimantan Barat ini yang belum teraliri listrik kurang lebih 24 persen," ujar Bambang dalam keterangan tertulisnya, Selasa (25/9/2018).

Dengan beroperasinya PLTBm Siantan ini, pemanfaatan EBT sebagai pembangkit listrik semakin meningkat, target bauran energi sebesar 23 persen di tahun 2025 menjadi semakin dekat. Bionergi sendiri dalam bauran energi tahun 2025 di targetkan sebesar 95,5 gigawatt.

"Memang saat ini kisaran kita 1.800 sampai 1.900 MW. Untuk itu dibutuhkan salah satunya seperti IPP industri seperti ini, biomassa di Kalimantan Barat," kata Kasubdit Penyiapan Program Direktorat Bioenergi, Trois Billy Susendi.

PLTBm Siantan memanfaatkan sisa hasil pertanian seperti cangkang kelapa sawit, tandan buah kosong, kayu, serabut kelapa, dan limbah pertanian lainnya untuk bahan baku.

Sistem kerja PLTBm tidak jauh berbeda dengan PLTU dengan bahan batubara, namun PLTBm menggunakan sumber energi yang lebih mudah didapat dan dapat diperbaharui. Secara sederhana prosesnya meliputi pembakaran limbah untuk memanaskan air.

Air yang digunakan berasal dari air sungai Kapuas yang telah diolah. Pemanasan air menghasilkan uap yang dapat menggerakkan turbin sehingga menghasilkan listrik.

Pembangkit ini mulai beroperasi bulan April 2018 dengan tarif jual ke PLN sebesar Rp 1.495,-/ kwh. Listrik yang dihasilkan akan dialirkan melalui jaringan PLN 20 kilo Volt (kV) milik PLN sepanjang 5,6 kilometer sirkuit (kms).

Jaringan ini terkoneksi dengan sistem jaringan Khatulistiwa yang melayani pelanggan PLN di Pontianak, Kubu Raya, mempawah, Singkawang, Pemangkat, Sambas, dan Bengkayang.

Jaringan Khatulistiwa memiliki daya mampu rata-rata 341 MW dan beban puncak rata-rata mencapai 294 MW.

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia