Home

Indeks Daya Saing Global Indonesia Turun Menjadi 50 Dunia

Indeks Daya Saing Global Indonesia Turun Menjadi 50 Dunia


JAKARTA, KOMPAS.com - Peringkat daya saing global Indonesia dalam Global Competitiveness Index 2019 turun lima peringkat berdasarkan laporan Forum Ekonomi Dunia ( World Economic Forum).

Seperti dikutip dalam laporan tersebut, Rabu (9/10/2019) Indonesia menduduki peringkat ke 50 dunia, dari yang sebelumnya posisi ke 45. Posisi tersebut sangat jauh tertinggal dengan negara kawasan lain seperti Singapura yang menduduki posisi pertama dunia, Malaysia di posisi ke 27 dan Thailand di posisi ke 40.

Energi untuk Keamanan Nasional

Energi untuk Keamanan Nasional

Mudi Kasmudi 

Praktisi Energi, Industri, dan Pertambangan

Pada 4 Agustus 2019, kita diingatkan pada peristiwa pemadaman total (blackout ) di Jawa-Bali yang diawali dengan gangguan pada sistem Saluran Udara Tegangan Ekstra-Tinggi (SUTET) Ungaran-Pemalang. Akibatnya kurang lebih 152 juta penduduk Jawa-Bali (58% dari total penduduk) mengalami pemadaman, industri dan pabrik berhenti, fasilitas publik padam, bahkan Ibu Kota lumpuh, KRL dan MRT berhenti, transaksi elektronik dan jaringan telekomnuikasi terganggu. Kejadian itu membuka mata kita bahwa keamanan nasional (national security ) mudah dilumpuhkan (vulnerability). 

Jakarta, Kota Berpolusi Terburuk?

Jakarta, Kota Berpolusi Terburuk?

 

 

Pertumbuhan penduduk ibu kota Jakarta kian melaju dengan pesat. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, pada 2017 terdapat lebih dari 10,37 juta jiwa tinggal di DKI Jakarta dengan luas wilayah hanya 662,33 kilometer persegi (km2).  Hal ini menjadikan DKI Jakarta sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Dalam laporan Oxford Economics yang berjudul Global Cities 2018 memprediksi bahwa pada 2035, kota Jakarta akan menjadi kota dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, sebanyak 38 juta jiwa melampaui Tokyo, Jepang  dan Chongqing, China.

Namun pertumbuhan penduduk yang pesat ini tidak dibarengi dengan peningkatan sistem transpotasi publik yang memadai, dampaknya jumlah kendaraan di Ibu Kota pun turut membludak. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut setidaknya sekitar 20 juta kendaraan melintas setiap harinya di jalanan Ibu Kota. Hal ini menimbulkan berbagai permasalahan, salah satunya yakni polusi udara.

 

Langkah Strategis Mengatasi Krisis Energi Listrik

Langkah Strategis Mengatasi Krisis Energi Listrik

 

Tenaga listrik merupakan sumber energi yang sangat penting bagi kehidupan manusia baik untuk kegiatan industri, kegiatan komersial maupun dalam kehidupan sehari-hari rumah tangga. Energi listrik dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan penerangan dan proses produksi yang melibatkan barang-barang elektronik dan alat-alat/mesin industri.

Mengingat begitu besar dan pentingnya manfaat energi listrik sedangkan sumber energi pembangkit listrik terutama yang berasal dari sumber daya tak terbarui keberadaannya terbatas, maka untuk menjaga kelestarian sumber energi ini perlu diupayakan langkah-langkah strategis yang dapat menunjang penyediaan energi listrik secara optimal dan terjangkau.

RI Bisa Contoh Brasil & Pakistan Pindahkan Ibu Kota dalam 5 Tahun

RI Bisa Contoh Brasil & Pakistan Pindahkan Ibu Kota dalam 5 Tahun

tirto.id - Indonesia dapat mencontoh Brasil dan Pakistan yang berhasil memindahkan ibu kota negaranya dalam waktu kurang dari lima tahun. Indonesia seharusnya juga bisa melakukannya, bahkan bisa lebih cepat.

"Ternyata ada dua negara yang di tahun 60-an memindahkan ibu kotanya dan membutuhkan waktu tidak lebih dari lima tahun untuk membuat kota yang dibangun dari nol dan sudah beroperasi sebagai pusat pemerintahan atau ibu kota negara," ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di Balikpapan, Selasa (1/10) malam.

LRT-MRT Lebih Murah dari Kerugian Macet Rp100 Triliun

LRT-MRT Lebih Murah dari Kerugian Macet Rp100 Triliun

 

JAKARTA - Kemacetan ternyata memiliki dampak yang luar biasa. Kemacetan bisa menyebabkan kerugian hingga Rp100 triliun dalam setahun.

 

Selain membangun transportasi massal seperti MRT dan LRT, solusi mengurangi angaka kemacetan dan juga besarnya kerugian itu adalah kendaraan pribadi. Masyarakat harus diberikan pengertian supaya meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan transportasi massal.

 

Website designed for Pusat Studi Infrastruktur Indonesia